Postingan

BACA

Ini hari yang sempurna. Bukan sebab cuaca, bukan pula sebab uang. Cuaca malah sedang hujan gerimis, uang pun selayaknya kelas pekerja lain, tidak mau kalah dengan fluktuatifnya kurs rupiah. Tapi suasana hatiku lah yang membuat semuanya terasa sempurna. Ini hari yang sempurna untuk menggali literasi demi ambisiku. Ambisi novelku tentang kerajaan kolosal di nusantara.
Tiga buku bertumpuk di mejaku, dua adalah susunan profesor indonesianis Australia, sedangkan satu lagi adalah novel tema sejarah panutanku. Ketiganya aku sengaja pinjam dari perpustakaan kota, gedung lusuh nan sunyi itu. Belum lagi kumpulan e-book di dalam gulungan hard drive laptop rentaku. Sungguh sempurna. Sengaja aku duduk di dekat jendela kafe favoritku, sambil menatap lamat-lamat gerimis yang genit. Tak lupa secangkir mocchacino itu, ah ini adalah cuilan surga. Sengaja HP aku nonaktifkan, aku tidak akan mentolerir gangguan sekecil apapun. Ini semua demi ambisiku setahun belakangan. Novel, terutama genre sejarah harus …

Bersisian

Temuilah aku di kereta itu sabtu malam. Kereta Gaya Baru Malam Selatan, kereta nomor 174. Aku berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 10.15, ku akan sampai di sana sekitar pukul 18.30. Naiklah kereta bersamaku, menuju rumah pamanku di Solo. Kita langsungkan akad disana. Tiketmu sudah kubelikan, tanyakanlah pada petugas bila kau kebingungan. ttd
wisanggeni Itulah bunyi suratmu yang kau kirim dengan pos kilat pak pos. Secepat kilat berkelebat menembus aspal Jakarta, hutan beton bercerobong di Karawang, permadani padi di Haurgeulis, hingga punggungan bukit-bukit di Banyumas. Kuterima pagi ini, hari ini jum’at. Bermakna jelas, besok lah hari itu. ***
Dialah masku, Wisanggeni dari Mlojo. Nama nan asing di telingaku. Aku bertemu dia di pelataran Stasiun Kemayoran. Tempat pertama aku jejakkan hikayat hidupku di tanah ibu dari kota-kota Nusantara. Kenapa aku bisa bertemu dia?. Oh, aku ingat kalau dia orang yang pura-pura tidur pula sambil memejamkan mata di KRL laknat itu, bersenjata masker da…
SAJAK SERGAH Oh kekasih
Rinduku padamu menderu
Menembus dusan cakrawala
Nun jauh disana
Dibalik horizon segara samsara

Ah kekasih
Ku bersakit rakit disini
Bagaimana gerangan dikau disana?
Ingatlah pada rembulan dikala gulita
Senyap bagai doaku

Duh kekasih
Ketika mata tak lagi beradu
Hati masih sayup bernyanyi
Bersiul Berdendang Bergumam
Tak peduli kau tak disini

Engkau lah langit
Akulah bumi
Langit menyapa bumi dengan petir
Langit memeluk bumi dengan hujan
Bumi menelan itu semua

Apakah aku bagai Adam bagimu?
Bukan lagi tulang rusukku menjadimu
Sekujur hatiku nyatanya untukmu
kau bawa pergi
Mengembuskan kekosongan

Semua hakikatnya tunggal
Bumi dan langit
Adam dan hawa
Khaliq dan makhluk
Aku dan engkau(?)

Kaleng-Kaleng Berlubangang

Seperti gelagatnya yang biasa, Ustadz Muharrom masih melayangkan pandangan kasar nan tajamnya padaku. Aku memang sudah 5 hari bolos dan telah berlarut-larut jadi buronan Ustadz Muharrom. Tak pelak alasan jarang muraja’ah-lah yang menjadikan aku sebagai target utama serangannya kali ini. Padahal aku sudah berbaik niat menerjang hujaman air langit yang menikam bumi sore ini. Sial sedang menimpa juga. Aku berada di belakang Barok dan Arif. Mereka sudahdikenal atas muraja’ah yang lama sekali durasinya. Sama-sama tidak lancar. Kalau aku sih tak pernah mikir panjang, lah aku ini cuma disuruh, lebih pasnya dipaksa Ayahku ikut program tahfidz disini. Santai saja lah. Lah cuma buat mengugurkan kewajiban. Aku masih berkutat di juz dua. Entah karena kebanyakan maksiat atau apalah, aku ini gampang menghafal, dan lebih gampang lagi lupanya, klop dah. Sial lagi, ngantuk mulai terantuk-antuk di pelupuk mata. Barok malah masih muter di ayat yang itu-itu aja, tiada harapan. Tak kuat. Aku pun terpulas d…